Pernahkah kamu mendengar istilah “you are what you listen to” yang sering kali diterapkan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan besarnya, apakah konsep tersebut hanya sekadar ilusi belaka, atau memang benar-benar memberikan pengaruh nyata pada hidup kita? Bagi generasi Z, mendengarkan musik setiap hari sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bahkan diibaratkan seperti sahabat karib yang saling membutuhkan. Suasana dan genre musik yang didengar dinilai memiliki daya magis yang kuat untuk mengatur serta mempengaruhi suasana hati (mood) seseorang.
Sumber: Pinterest
Sebagian pendengar meyakini bahwa perasaan hati dapat berubah secara drastis hanya karena mendengarkan lagu yang bertolak belakang dengan kondisi emosi mereka saat itu. Lagu yang sedih bisa mendadak membuat melankolis, begitu pula sebaliknya, lagu yang bersemangat mampu membangkitkan energi positif secara instan. Musik bekerja sebagai medium katarsis yang membantu seseorang memproses perasaan mereka, baik itu untuk meredakan stres, mencari ketenangan, maupun sekadar menikmati momen kesendirian di tengah padatnya aktivitas harian.
Di sisi lain, tidak semua orang meresapi musik dengan cara yang sama. Ada pula tipe pendengar yang menikmati lagu secara kasual, hanya mendengarkan alunan melodinya sebagai latar belakang tanpa terlalu mendalami atau meresapi setiap lirik yang disampaikan. Bagi kelompok ini, musik berfungsi murni sebagai pengisi keheningan atau hiburan ringan, sehingga pengaruhnya terhadap psikologis mungkin tidak sebesar mereka yang benar-arah menghayati setiap bait kata dalam lagu.
Sumber: Pinterest
Pada akhirnya, apakah “you are what you listen to” itu nyata atau mitos kembali pada bagaimana cara seseorang berinteraksi dengan musik itu sendiri. Musik terbukti memiliki kekuatan psikologis yang kuat untuk mempengaruhi emosi dan membentuk identitas personal seseorang, terutama di kalangan generasi muda. Namun, sejauh mana pengaruh tersebut berdampak pada kehidupan sehari-hari tetap bergantung pada tingkat kepedulian dan cara individu dalam memaknai setiap alunan suara yang masuk ke telinga mereka.
Artikel ditulis oleh Nauva Aulia