Pernahkah kalian minta AI bikin caption, merangkum materi kuliah, atau mengedit foto, lalu hasilnya muncul dalam hitungan detik? Di balik kecepatan itu, ada “tagihan” besar yang jarang kita sadari. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie mengungkap bahwa AI ternyata sangat rakus listrik dan air. Hal itu ia sampaikan lewat video di akun Instagram pribadinya yang ramai dibicarakan pada Jumat (18/9/2026).

Sumber: Instagram/@prof.stellachristie

Dalam videonya, Prof. Stella menunjukkan data pusat data (data center) AI di Amerika Serikat yang kapasitasnya mencapai 10 sampai 11 gigawatt. Kalau dijumlahkan, pemakaian listriknya saat ini sekitar 155 triliun watt hours, dan diperkirakan naik menjadi 465 triliun pada 2030. Supaya mudah dibayangkan, Prof. Stella membandingkannya dengan negara-negara Eropa. Tahun lalu, listrik untuk AI setara dengan kebutuhan Latvia selama setahun. Tahun ini setara Romania, tahun depan Czechia, lalu Italia pada 2028, dan Inggris Raya pada 2029. Setelah itu, katanya, sudah tidak ada negara Eropa yang bisa jadi pembanding, sehingga harus melirik Kanada.

Bukan cuma listrik, AI juga “haus”. Menurut Stella, tahun lalu air minum untuk 1,2 juta orang menguap karena dipakai AI. Penyebabnya, server di pusat data bekerja nonstop dan menghasilkan panas ekstrem, sehingga butuh sistem pendingin yang salah satunya memakai air. Sebuah riset akademisi AS bahkan memperkirakan 10 sampai 50 respons model GPT-3 bisa menghabiskan hingga setengah liter air. Industri AI juga diproyeksikan memakai air empat sampai enam kali lipat konsumsi seluruh negara Denmark pada 2027. Tak heran pembangunan pusat data di beberapa daerah kering, seperti Arizona, Chili, dan Uruguay, sempat ditolak warga. Karena itu, Stella menegaskan bahwa yang paling menentukan masa depan AI bukan cip atau semikonduktor, melainkan energi.

Sumber: Instagram/@prof.stellachristie

Meski terdengar mengkhawatirkan, Stella melihat kabar ini sebagai peluang bagi Indonesia. Indonesia punya energi terbarukan melimpah, mulai dari surya, angin, panas bumi yang cadangannya terbesar kedua di dunia namun belum dioptimalkan, hingga temuan baru cadangan hidrogen alami yang besar. Tantangan berikutnya adalah transparansi, karena perusahaan teknologi dunia masih jarang membuka data konsumsi energi dan airnya secara terang-terangan. Jadi, mulai sekarang yuk jadi pengguna AI yang lebih bijak: tulis prompt yang jelas supaya tidak perlu diulang berkali-kali, pakai AI sesuai kebutuhan.