Penunjukan Ifan Seventeen sebagai Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) menuai banyak perdebatan. Sebagai seorang musisi yang lebih dikenal di dunia musik, keputusan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku industri film, politisi, hingga masyarakat umum. Sejumlah kritik muncul mengenai kapabilitasnya dalam memimpin sebuah badan usaha milik negara (BUMN) di bidang perfilman.

Reaksi dari Insan Perfilman

Sejumlah tokoh perfilman menyuarakan keberatan mereka terhadap keputusan ini. Aktor Fedi Nuril, misalnya, mempertanyakan rekam jejak Ifan di industri film. Menurutnya, kepemimpinan dalam perusahaan sebesar PFN membutuhkan pengalaman yang matang, sesuatu yang belum terlihat dalam perjalanan karier Ifan di dunia perfilman.

Hal serupa disampaikan oleh Arie Kriting. Ia menyoroti pentingnya kapabilitas dalam sebuah jabatan, bukan hanya semangat dan motivasi. Ia bahkan mengibaratkan penunjukan Ifan sebagai Dirut PFN seperti dirinya yang tiba-tiba ditunjuk menjadi vokalis Seventeen, meskipun tidak memiliki latar belakang di industri musik.

Sutradara Joko Anwar juga turut menanggapi. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa industri film memiliki kompleksitas tinggi yang membutuhkan pemimpin dengan pemahaman mendalam. Ia sendiri, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia film, masih merasa perlu terus belajar, sehingga mempertanyakan bagaimana seseorang tanpa pengalaman signifikan bisa mengelola perusahaan film negara.

Sumber dari InsertLive

Pembelaan Ifan Seventeen

Menanggapi kritik yang beredar, Ifan Seventeen memberikan klarifikasi bahwa ia tidak sepenuhnya asing dengan dunia film. Ia mengungkapkan bahwa sejak 2019, ia telah memiliki production house (PH) sendiri dan pernah menjabat sebagai executive producer dalam sebuah film yang sukses di platform OTT milik pemerintah.

Selain itu, ia juga terlibat dalam produksi film dokumenter “Kemarin,” yang mengangkat tragedi tsunami Banten yang merenggut nyawa rekan-rekan bandnya dan istrinya. Namun, keterlibatan ini masih dianggap belum cukup oleh banyak pihak untuk membuktikan bahwa ia memiliki kompetensi dalam memimpin PFN.

Sumber dari Bisnis.com

Hari Pertama Kerja yang Disorot

Kritik terhadap Ifan semakin menguat setelah insiden di hari pertamanya menjabat sebagai Dirut PFN. Ketika Komisi VI DPR melakukan inspeksi mendadak ke kantor PFN, Ifan terlambat sekitar 40 menit. Meskipun ia kemudian memberikan penjelasan dan memaparkan visinya untuk PFN, kejadian ini semakin memperburuk pandangan publik terhadap kepemimpinannya.

DPR sendiri menyoroti kondisi kantor PFN yang tampak kurang terawat dan menekankan bahwa perusahaan ini perlu dikelola dengan baik agar dapat menjadi pusat produksi film negara yang kuat.

Kesimpulan: Layak atau Tidak?

Perdebatan mengenai kelayakan Ifan Seventeen sebagai Dirut PFN masih terus berlangsung. Di satu sisi, ia memiliki semangat dan beberapa pengalaman dalam dunia film. Namun, di sisi lain, banyak yang berpendapat bahwa kepemimpinan dalam BUMN perfilman memerlukan rekam jejak yang lebih solid dan pemahaman mendalam tentang industri ini.

Kapabilitas Ifan sebagai pemimpin akan diuji seiring waktu. Jika ia mampu membawa perubahan positif bagi PFN, kritik yang ada mungkin akan mereda. Namun, jika tidak, maka kekhawatiran yang disampaikan para sineas bisa menjadi kenyataan bahwa keputusan ini lebih banyak membawa tantangan daripada manfaat bagi industri perfilman Indonesia.

 

Artikel ditulis oleh Dygo Aheesa