Bencana banjir besar melanda Kota Nanning, ibu kota Daerah Otonomi Guangxi, China selatan, pada Senin 6 Juli 2026. Dua bagian tanggul Waduk Liulan di wilayah Hengzhou dilaporkan jebol sekitar pukul 11.00 waktu setempat, menciptakan celah selebar kurang lebih 50 meter yang membuat air deras menerjang permukiman warga di daerah hilir. Dilansir dari MetroTV, memperlihatkan air berlumpur menyapu ladang dan puluhan ribu warga terdampak dan dievaluasi.
Sumber: Website/cnnindonesia.com
Kejadian ini dipicu oleh hujan ekstrem yang dibawa Topan Maysak sebelumnya di Provinsi Hainan pada Jumat, 3 Juli 2026. Curah hujan yang sangat lebat membuat permukaan air di 66 stasiun pemantauan pada 55 sungai di Guangxi naik melampaui ambang batas peringatan. Akibatnya, pemerintah Kota Nanning menaikkan status tanggap darurat banjir dari Level III ke Level I, status tertinggi, sementara Kementerian Manajemen Darurat China turut menaikkan level respons banjir nasional dari Level III ke Level II, kemudian Pemerintah China mengirimkan bantuan logistik ke wilayah terdampak. Pemerintah pusat China juga mengerahkan 1.372 personel dan 140 perahu penyelamat, serta menyalurkan 150 ribu barang bantuan bencana berupa tenda dan perlengkapan tidur.
Pada hari yang sama, Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang menginstruksikan Markas Besar Pengendalian Banjir dan Penanggulangan Kekeringan Nasional serta Komisi Pencegahan, Mitigasi, dan Penanggulangan Bencana Nasional untuk membimbing pemerintah daerah dalam memantau situasi banjir secara teliti, yakni memperkuat pemantauan dan peringatan dini terhadap bahaya dan melakukan upaya maksimal untuk melaksanakan aksi penyelamatan darurat. Meski Topan Maysak sudah melemah menjadi badai tropis, otoritas cuaca China memperingatkan potensi hujan lebat susulan, sehingga warga China lebih aware akan potensi hujan lebat susulan yang mengguyur wilayah Guangxi.
Artikel ditulis oleh Regina Valencia Elizabeth Kaunang