Kemudahan akses dalam berbelanja digital hari ini sukses mengubah transaksi konvensional menjadi pembayaran secara digital. Mengganti tampilan layar menjadi etalase raksasa yang dapat memanjakan mata selama dua puluh empat jam tanpa henti. Kini, aktivitas menyelami media sosial bukan sekadar mencari hiburan, banyak kalangan anak muda yang tidak jarang terjebak dalam belanja secara spontan atau yang dikenal juga dengan impulsive buying. Peristiwa ini dipicu oleh algoritma sosial yang terus menerus merekomendasikan barang dengan pancingan diskon.
Akan tetapi terdapat sisi gelap yang seringkali jarang disadari oleh para konsumen dibalik kesenangan dalam melakukan transaksi digital. Siapa sangka, fenomena belanja hanya karena lapar mata ini, menjadi salah satu penyebab utama dari peningkatan drastis sampah di Indonesia. Ekosistem limbah baru terbentuk dari setiap pembelian barang yang dilakukan, mulai dari plastik bubble wrap, lakban, hingga lembaran bungkus plastik yang akhirnya hanya akan menjadi limbah dan polusi lingkungan yang sulit terurai.
Sumber: quickanddirtytips.com
Sayangnya, banyak barang yang dibeli secara impulsif lebih sering berujung menjadi tumpukan benda yang tidak lagi digunakan. Contohnya, seperti pakaian yang dibeli hanya untuk membuat satu konten, aksesoris yang sebenarnya tidak fungsional dan dibeli hanya karena terlihat lucu atau estetik. Cepat atau lambat, semua barang tersebut akan dibuang dan memakan ruang tempat pembuangan akhir. Konsumsi secara berlebihan ini secara tidak langsung merugikan sumber daya alam yang kita miliki hanya demi memenuhi siklus produksi massal dengan jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat.
Melihat dampak terhadap lingkungan yang diakibatkan dari pola ini, muncul istilah conscious consumerism. Perilaku ini mengajak orang-orang untuk berubah menjadi konsumen yang bijak dan lebih berkesadaran. Konsep dari conscious consumerism mengajarkan setiap orang agar mempertimbangkan dampak yang akan dihasilkan dari keputusan mereka sebelum membeli sesuatu. Cara penerapannya pun dapat dilakukan mulai dari langkah-langkah kecil dalam keseharian yang kita lakukan. Seperti mulai memberi jeda waktu berpikir sebelum benar-benar melakukan transaksi, untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar kebutuhan atau hanya keinginan sesaat.
Sumber: Pinterest/@Ridwan
Pada dasarnya, kita tidak harus menunggu aksi nyata yang besar untuk membantu menjaga kelestarian bumi dan sumber daya yang kita miliki. Hal ini dapat dimulai dari isi keranjang belanja kita sendiri, mengurangi kebiasaan belanja secara impulsif dan mulai menjadi konsumen yang memiliki kesadaran tinggi akan dampaknya terhadap lingkungan merupakan langkah awal yang sangat baik. Karena setiap keputusan kecil yang kita ambil hari ini, menentukan kualitas lingkungan seperti apa yang akan kita wariskan di masa depan.
Artikel ditulis oleh Dini Afiyatus Zahroh