Isu fast fashion yang semakin meningkat mendorong hadirnya gerakan edukatif bertajuk Dressponsible, yang diselenggarakan pada Sabtu, 18 April 2026. Kegiatan ini merupakan proyek tugas akhir (non-thesis) dari tiga mahasiswa London School of Public Relations, yaitu Laura, Jody, dan Ila, dengan fokus pada peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam berpakaian.

Mengusung slogan “Dress Smart, Stay Responsible”, acara ini dirancang sebagai kampanye sosial yang menggabungkan komunikasi, kreativitas, dan isu keberlanjutan dalam industri fashion.

Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Acara diawali dengan sesi konferensi pers yang menghadirkan berbagai stakeholder dari sektor pendidikan, pemerintah, industri kreatif, hingga berbagai media. Dalam sambutannya, pihak akademik menyampaikan bahwa proyek ini menjadi bentuk implementasi nyata pembelajaran mahasiswa dalam mengangkat isu sosial melalui pendekatan komunikasi.

Dukungan juga datang dari Museum Bank Indonesia yang menyoroti pentingnya literasi publik melalui komunikasi yang efektif. Kampanye seperti Dressponsible dinilai mampu menyampaikan pesan edukatif mengenai konsumsi fashion secara lebih luas.

Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif turut mengapresiasi inisiatif ini sebagai langkah positif dalam mendorong sustainable fashion melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), sekaligus membuka peluang perkembangan sektor ekonomi kreatif di masa depan.

Dalam sesi diskusi, dijelaskan bahwa Dressponsible berawal dari proyek kelas yang kemudian dikembangkan menjadi program berkelanjutan. Seiring waktu, inisiatif ini diteruskan oleh mahasiswa tingkat akhir sebagai bagian dari tugas akhir berbasis proyek sosial.

Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk desainer lokal dan institusi, memperkuat positioning kampanye ini sebagai gerakan yang relevan dan berdampak. Mahasiswa berperan aktif sebagai komunikator sekaligus penggerak perubahan di tengah isu lingkungan yang semakin kompleks.

Salah satu highlight acara adalah penayangan iklan layanan masyarakat yang mengangkat isu limbah tekstil akibat fast fashion. Menggunakan pendekatan storytelling, kampanye ini dirancang agar dekat dengan generasi muda. Beberapa versi video juga akan ditampilkan melalui media luar ruang seperti videotron.

Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Proses produksi menjadi bagian penting dalam pembelajaran, mulai dari riset hingga eksekusi kreatif. Pesan yang dibawa berfokus pada peningkatan awareness terhadap dampak lingkungan serta ajakan untuk memilih produk fashion yang lebih berkelanjutan.

Setelah sesi konferensi pers, peserta juga diajak mengikuti tur edukatif di Museum Bank Indonesia. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai sejarah ekonomi dan peran institusi dalam membangun literasi publik. Tur ini sekaligus memperkuat pesan kampanye Dressponsible, bahwa edukasi dan kesadaran dapat dibangun melalui pengalaman yang interaktif dan kontekstual.

 

Artikel ditulis oleh Keisha Shelomita