Media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk membicarakan pelecehan seksual melalui ungkapan “Educate Your Son” dan “Bukan Perempuan yang Salah”. Pesan ini menegaskan pelecehan seksual merupakan tanggung jawab bersama. Selain mengedukasi perempuan tentang perlindungan diri, masyarakat juga perlu mengajarkan laki-laki untuk menghormati orang lain, memahami batasan pribadi, dan bertanggung jawab atas perilakunya.
Berdasarkan Catatan Tahunan 2025 yang diluncurkan oleh Komnas Perempuan (6/3), tercatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sepanjang 2025. Data ini menunjukkan peningkatan sebesar 14,07 persen dari tahun sebelumnya. Tingginya angka kasus kekerasan terhadap perempuan menunjukkan bahwa upaya pencegahan masih perlu diperkuat. Kondisi ini mendorong perlunya perubahan dalam cara masyarakat memahami dan mencegah pelecehan seksual.
Sumber: Website/Pinterest
Selama ini, nasihat untuk mencegah pelecehan sering kali berfokus pada perempuan, seperti cara berpakaian atau menghindari tempat tertentu. Menjaga keselamatan diri memang penting, tetapi tanggung jawab pencegahan tidak seharusnya dibebankan hanya kepada perempuan. Pola pikir ini juga terlihat melalui victim blaming di media sosial, yaitu sikap menyalahkan korban atas kekerasan yang dialaminya. Sehingga inti pesan dari “Educate Your Son” adalah menekankan pentingnya mengajarkan anak laki-laki untuk menghormati batasan pribadi, memahami persetujuan, dan bertanggung jawab atas perilakunya.
Pencegahan pelecehan seksual membutuhkan pemahaman tentang persetujuan consent. Persetujuan harus diberikan secara sukarela, tanpa paksaan atau tekanan. Diam bukan berarti setuju, dan setiap orang berhak menolak atau mengubah keputusan. Persetujuan merupakan hal penting dalam setiap interaksi dan menjadi prinsip yang wajib dihormati. Pemahaman ini perlu dibangun sejak dini di keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, maupun komunitas.
Selain memahami pentingnya persetujuan, dukungan dari lingkungan sekitar juga berperan penting ketika korban berani menceritakan pengalaman yang dialaminya. Korban perlu didengarkan tanpa dihakimi, dipercaya, dan diberikan ruang untuk menyampaikan pengalamannya tanpa tekanan. Sikap ini dapat membantu korban merasa lebih aman dan tidak sendirian dalam menghadapi situasi yang dialaminya.
Sumber: Website/Pinterest
Ketika orang terdekat mengalami pelecehan seksual, dukungan dapat dimulai dengan mendengarkan tanpa menghakimi, menunjukkan kepedulian, dan menanyakan bantuan yang dibutuhkan. Hindari menyalahkan korban atau menyebarkan cerita dan identitasnya tanpa izin. Jika membutuhkan bantuan lebih lanjut, korban dapat didampingi untuk mengakses layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Perlindungan dan dukungan bagi korban membutuhkan lingkungan yang peduli dan mendukung. Pencegahan pelecehan seksual merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya korban atau pihak tertentu. Keluarga, institusi pendidikan, komunitas, dan masyarakat dapat berperan dengan membangun pemahaman tentang persetujuan, menghentikan kebiasaan menyalahkan korban, serta menanamkan sikap saling menghormati.
Kalimat “Educate Your Son” bukan berarti menganggap semua laki-laki sebagai pelaku, melainkan menegaskan pentingnya pendidikan untuk membangun tanggung jawab dan pemahaman mengenai batasan dalam setiap interaksi. Melindungi perempuan tetap penting, tetapi lingkungan yang aman hanya dapat dibangun ketika setiap orang menghormati hak dan batasan orang lain.
Artikel ditulis oleh Ni Putu Deiva Putri Darmadi.