Habis nongkrong atau ketemu banyak orang, tiba-tiba badan terasa lemas dan pengen langsung rebahan? Tenang, kamu nggak sendirian. Kondisi ini sering banget dialami para introvert, dan ini sering disebut dengan social battery dari tahun 2020-an sampai sekarang. Hal ini bukan berarti nggak suka gaul, tapi memang energi sosial mereka lebih cepat habis dibanding orang lain.
Sumber: Website/Gramedia
Social battery adalah gambaran kapasitas energi mental dan emosional yang dimiliki seseorang untuk berinteraksi sosial sebelum akhirnya kehabisan tenaga. Kalau energi ini mulai menipis, biasanya muncul tanda-tanda seperti pengen buru-buru pulang dari acara, susah fokus saat ngobrol, gampang teralihkan, sampai jadi lebih sensitif dan gampang kesal. Kalau tanda-tanda ini terus dicuekin dan tetap memaksakan diri untuk terus bersosialisasi, risikonya bisa berujung pada stres, cemas berlebihan, bahkan burnout.
Kabar baiknya, punya social battery yang cepat habis bukan berarti kamu harus menjauh dari kehidupan sosial, kok. Trik-nya adalah menemukan ritme yang pas buat diri sendiri, misalnya dengan lebih selektif memilih acara yang benar-benar penting, membatasi durasi nongkrong, atau kasih jeda waktu buat diri sendiri setelah acara besar seperti mencari tempat di mana kamu merasa sendiri dan nyaman. Isi ulang energi bisa dengan hal-hal simpel seperti baca buku, dengerin musik, atau sekadar me time di rumah. Belajar bilang “nggak bisa” untuk ajakan yang nggak terlalu penting juga penting banget, dan itu bukan berarti kamu cuek sama orang lain, justru ini bikin kamu bisa hadir dengan energi yang lebih positif saat memang bersosialisasi.
Sumber: Website/health.detik.com
Perlu diingat, kapasitas social battery tiap orang tentunya berbeda-beda dan bisa berubah tergantung kondisi fisik maupun mental, jadi nggak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Yuk, mulai kenali sinyal-sinyal energi sosialmu sendiri dan kasih waktu buat “recharge” energimu saat memang dibutuhkan.
Artikel ditulis oleh Regina Valencia Elizabeth Kaunang